Al Khoiriyah

Jam'iyyatut Tahlili Wat Ta'limi - Duduksampeyan, Gresik

Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

HAKEKAT DAN MAKNA TAWASSUL

HAKEKAT DAN MAKNA TAWASSUL
Oleh: ACH. SUYITNO, M.Ag

Sudahkah kita bersabar…? Sudahkah kita sholat sebagai penolong kita……? Pertanyaan inilah yang mengantarkan kita pada pemahaman tawassul. Mari kita lihat Dasar didalam QS. Al-Baqoroh; 45.

واستعينوا بالصبر و الصلواة, وانها لكبيرة الا على الخاشعين. (البقرة: 45).

Artinya;
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Qs. Al-Baqoroh: 45).

Coba kita lihat lagi dalam QS. Al-Maidah; 35: 

....وابتغوا اليه الوسيلة (الما ئدة: 35).

Artinya: “..Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (Allah). (Qs. Al-Maidah: 35).

Namun demikian kadang kala kita belum tahu apa sesungguhnya makna “Jalan” - Tawassul?...
Para ulama; Al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin al-Subhki (683-756 H/1240-1355 M, adalah pakar Fiqh, bahasa dan tafsir) menegaskan bahwa tawassul, istisyfa’, istighotsah, isti’anah, tajawwuh dan tawajjuh, memiliki makna dan kahekat yang sama. Beliau mendefinisikan sebagai berikut;

طلب حصول منفعة اواندفاع مضرة من الله بذكر اسم نبي او ولى اكراما للمتوسل به. (الحافظ العبدرى, اسرحالقويم, صظ(378

Bermakna: “ Memohon datangnya manfaat (kebaikan) atau terhindarnya bahaya (keburukan) kepada Allah dengan menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan (ikram) keduanya”. (Al-Hafidz al-‘Abdari, al-Syarh al-Qowim, hal: 378).

Sudahkah kita memahami demikian….?
Jawabya sebuah keharusan pemaknaan Tawasul demikian, TIDAK yang lain. Sebab dikalangan sebagian orang ada yang memaknai tawassul dengan pembiasan makna; yakni;
“Adalah memohon kepada seorang nabi atau wali untuk mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya dengan keyakinan bahwa nabi atau wali itulah yang mendatangkan manfaat dan menjauhkan bahaya secara hakiki”

…Persepsi makna tawassul yang keliru seperti inilah yang harus di buang jauh…..!
Banyak contoh-contoh tentang TAWASSUL;
Allah SWT telah menetapkan bahwa biasanya urusan-urusan di dunia ini terjadi berdasarkan hukum kausalitas (sebab akhibat) bahwa Alloh SWT sesungguhnya Maha Kuasa untuk mememberikan pahala kepada manusia tanpa beramal sekalipun, namun kenyataannya tidak demikian. Allah memerintahkan manusia untuk beramal dan mencari hal-hal yang mendekatkan diri kepada-Nya. (lihat Qs. Al-baqoroh diatas).

Bahwa ayat diatas, memerintahkan untuk mencari segala cara yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. artinya carilah sebab-sebab tersebut, kerjakanlah sebab-sebab itu, maka Allah akan mewujudkan akhibatnya. Allah SWT telah menjadikan TAWASSUL dengan para nabi dan wali sebagai salah satu sebab dipenuhinya permohonan hamba. Padahal Allah maha Kuasa untuk mewujudkan akhibat tanpa sebab-sebab tersebut. Oleh karena itu, kita diperkenankan ber-TAWASSUL dengan para nabi dan wali baik semasa hidup maupun sudah wafat dengan harapan agar permohonan kita dikabulkan oleh Allah SWT. 

Sebagaimana pula saat orang sakit pergi kedokter dan meminum obat agar diberikan kesembuhan oleh Allah, meskipun keyakinannya bahwa pencipta kesembuhan Adalah Allah. Sedangkan obat hanyalah sebab kesembuhan. Jika obat sebab ‘aadi (sebab-sebab alamiah), maka TAWASSUL adalah sebab syar’I (sebab-sebab yang diperkenankan syara’). 

Seandainya TAWASSUL bukan sebab syar’I, maka Rasulollah SAW tidak akan mengajarkan orang buta (yang datang kepadanya) agar ber-TAWASSUL dengannya dan disembuhkan oleh Allah meskipun dilain tempat sembuhnya (sembuhnya tidak dimajelis Rosul saat itu). Dalam hadits shahih, Rasulollah SAW mengajarkan kepada orang buta untuk berdo’a dengan mengucapkan;

اللهم اني اساءلك واتوجه اليك بنبينا محمد نبي الحمة, يا محمد اني اتوجه بك الى ربي في حاجتي لتقضى لي.

“Ya Allah aku memohon dan memanjatkan do’a kepada-Mu dengan nabi kami Muhammad, nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku dengan engkau berkait dengan hajatku agar dikabulkan”.

Hadits diatas diterapkan sahabat pada zaman Kholifah Utsman ibn Affan dan sampai sekarang dipake dasar dan mengamalkan isinya pula oleh ulama’-ulama’ Islam dan ditulis oleh ahli-ahli hadits dalam karya-karyanya, seperti; al-Imam ahmad, al-Turmudzi dan menilainya hadits hasan shahih, ..al-Nasa’I dalam amal al-yaum wa al-lailah, ibn Khuzaimah dalam al-Shahih, Ibn Majjah, al-thabarani dalam al-Mu’jam al-kabir, al-Mu’jam al-shaghir dan al-Du’a dan menilainya Shahih, al-Hakim dalam al-Mustadrak dan menilainya Shahih serta di akui oleh al-Hafidz al-Dzahabi, al-Hafidz al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah dan al-da’awat al-Kabir dan ulama-ulama’ lain. Dari kalangan ahli hadits muta’akhirin, hadits diatas disebutkan oleh Imam Nawawi, al-hafidz ibn al-Jazari, al-Syaukani dan lain-lain.

Hadits diatas sekali lagi adalah dalil diperbolehkannya ber-TAWASSUL dengan nabi Muhammad Saw pada saat nabi masih hidup, dibelakangnya (tidak dihadapannya). Hadits ini juga diperbolehkannya ber-TAWASSUL setelah beliau wafat seperti diajarkan oleh perawi hadits yaitu sahabat Utsman bin Hunaif kepada tamu sayyidina Utsman. Dan perlu dingat bahwa hadits ini tidak ada yang me-nasakh-nya. (Dikutip dari Kitab: Tim Bahtsul Masa’il PC. NU Jember, “Membongkar kebohongan Buku-mantan Kyai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik-H. Mahrus Ali”, PT. Khalista, Surabaya, 2008, Hal: 04)

Yang Sesat Yang Ngamuk

    Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.
   Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.
    Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
    Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.
    Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil ’aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
    Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al-aayah" (Q.S 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.
    Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika… al-aayah" (Q.S 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…"

Tak Mengerti
 

    Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).
    Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.
    Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.
    Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja?
    Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana.

*A. Mustofa Bisri, pengasuh Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang

Syaikhona Kholil Bangkalan (Kilas Sejarah Seputar Pendirian NU)

Ada tiga orang tokoh ulama yang memainkan peran sangat penting dalam proses pendirian Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) yaitu Kiai Wahab Chasbullah (Surabaya asal Jombang), Kiai Hasyim Asy’ari (Jombang) dan Kiai Cholil (Bangkalan). Mujammil Qomar, penulis buku "NU Liberal: Dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam", melukiskan peran ketiganya sebagai berikut Kiai Wahab sebagai pencetus ide, Kiai Hasyim sebagai pemegang kunci, dan Kiai Cholil sebagai penentu berdirinya.
    Tentu selain dari ketiga tokoh ulama tersebut , masih ada beberapa tokoh lainnya yang turut memainkan peran penting. Sebut saja KH. Nawawie Noerhasan dari Pondok Pesantren Sidogiri. Setelah meminta restu kepada Kiai Hasyim seputar rencana pendirian Jamiyyah. Kiai Wahab oleh Kiai Hasyim diminta untuk menemui Kiai Nawawie. Atas petunjuk dari Kiai Hasyim pula, Kiai Ridhwan-yang diberi tugas oleh Kiai Hasyim untuk membuat lambang NU- juga menemui Kiai Nawawie. Tulisan ini mencoba mendiskripsikan peran Kiai Wahab, Kiai Hasyim, Kiai Cholil dan tokoh-tokoh ulama lainnya dalam proses berdirinya NU.

Keresahan Kiai Hasyim

    Bermula dari keresahan batin yang melanda Kiai Hasyim. Keresahan itu muncul setelah Kiai Wahab meminta saran dan nasehatnya sehubungan dengan ide untuk mendirikan jamiyyah / organisasi bagi para ulama ahlussunnah wal jamaah. Meski memiliki jangkauan pengaruh yang sangat luas, untuk urusan yang nantinya akan melibatkan para kiai dari berbagai pondok pesantren ini, Kiai Hasyim tak mungkin untuk mengambil keputusan sendiri. Sebelum melangkah, banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga masih perlu untuk meminta pendapat dan masukan dari kiai-kiai sepuh lainnya.
    Pada awalnya, ide pembentukan jamiyyah itu muncul dari forum diskusi Tashwirul Afkar yang didirikan oleh Kiai Wahab pada tahun 1924 di Surabaya. Forum diskusi Tashwirul Afkar yang berarti “potret pemikiran” ini dibentuk sebagai wujud kepedulian Kiai Wahab dan para kiai lainnya terhadap gejolak dan tantangan yang dihadapi oleh umat Islam terkait dalam bidang praktik keagamaan, pendidikan dan politik. Setelah peserta forum diskusi Tashwirul Afkar sepakat untuk membentuk jamiyyah, maka Kiai Wahab merasa perlu meminta restu kepada Kiai Hasyim yang ketika itu merupakan tokoh ulama pesantren yag sangat berpengaruh di Jawa Timur.
    Setelah pertemuan dengan Kiai Wahab itulah, hati Kiai Hasyim resah. Gelagat inilah yang nampaknya "dibaca" oleh Kiai Cholil Bangkalan yang terkenal sebagai seorang ulama yang waskita (mukasyafah). Dari jauh ia mengamati dinamika dan suasana yang melanda batin Kiai Hasyim. Sebagai seorang guru, ia tidak ingin muridnya itu larut dalam keresahan hati yang berkepanjangan. Karena itulah, Kiai Cholil kemudian memanggil salah seorang santrinya, As’ad Syamsul Arifin (kemudian hari terkenal sebagai KH. As’ad Syamsul Arifin, Situbondo) yang masih terhitung cucunya sendiri.

Tongkat “Musa”

“Saat ini Kiai Hasyim sedang resah. Antarkan dan berikan tongkat ini kepadanya,” titah Kiai Cholil kepada As’ad. “Baik, Kiai,” jawab As’ad sambil menerima tongkat itu.
“Setelah membeerikan tongkat, bacakanlah ayat-ayat berikut kepada Kiai Hasyim,” kata Kiai Cholil kepada As’ad seraya membacakan surat Thaha ayat 17-23.
Allah berfirman: ”Apakah itu yang di tangan kananmu, hai musa? Berkatalah Musa : ‘ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya’.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” Lalu dilemparkannya tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”, Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaan semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar.”
    Sebagai bekal perjalanan ke Jombang, Kiai Cholil memberikan dua keeping uang logam kepada As’ad yang cukup untuk ongkos ke Jombang. Setelah berpamitan, As’ad segera berangkat ke Jombang untuk menemui Kiai Hasyim. Tongkat dari Kiai Cholil untuk Kiai Hasyim dipegangnya erat-erat.
    Meski sudah dibekali uang, namun As’ad memilih berjalan kaki ke Jombang. Dua keeping uang logam pemberian Kiai Cholil itu ia simpan di sakunya sebagai kenagn-kenangan. Baginya, uang pemberian Kiai Cholil itu teramat berharga untuk dibelanjakan.
S    esampainya di Jombang, As’ad segera ke kediaman Kiai Hasyim. Kedatangan As’ad disambut ramah oleh Kiai Hasyim. Terlebih, As’ad merupakan utusan khusus gurunya, Kiai Cholil. Setelah bertemu dengan Kiai Hasyim, As’ad segera menyampaikan maksud kedatangannya, “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk mengantarkan dan menyerahkan tongkat ini,” kata As’ad seraya menyerahkan tongkat.
    Kiai Hasyim menerima tongkat itu dengan penuh perasaan. Terbayang wajah gurunya yang arif, bijak dan penuh wibawa. Kesan-kesan indah selama menjadi santri juga terbayang dipelupuk matanya. “Apa masih ada pesan lainnya dari Kiai Cholil?” Tanya Kiai Hasyim. “ada, Kiai!” jawab As’ad. Kemudian As’ad membacakan surat Thaha ayat 17-23.
    Setelah mendengar ayat tersebut dibacakan dan merenungkan kandungannya, Kiai Hasyim menangkap isyarat bahwa Kiai Cholil tak keberatan apabila ia dan Kiai Wahab beserta para kiai lainnya untuk mendirikan Jamiyyah. Sejak saat itu proses untuk mendirikan jamiyyah terus dimatangkan. Meski merasa sudah mendapat lampu hijau dari Kiai Cholil, Kiai Hasyim tak serta merta mewujudkan niatnya untuk mendirikan jamiyyah. Ia masih perlu bermusyawarah dengan para kiai lainnya, terutama dengan Kiai Nawawi Noerhasan yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri. Terlebih lagi, gurunya (Kiai Cholil Bangkalan) dahulunya pernah mengaji kitab-kitab besar kepada Kiai Noerhasan bin Noerchotim, ayahanda Kiai Nawawi Noerhasan.
    Untuk itu, Kiai Hasyim meminta Kiai Wahab untuk menemui Kiai Nawawie. Setelah mendapat tugas itu, Kiai Wahab segera berangkat ke Sidogiri untuk menemui Kiai Nawawie. Setibanya di sana, Kiai Wahab segeraa menuju kediaman Kiai Nawawie. Ketika bertemu dengan Kiai Nawawie, Kiai Wahab langsung menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah mendengarkan dengan seksama penuturan Kiai Wahab yang menyampaikan rencana pendirian jamiyyah, Kiai Nawawie tidak serta merta pula langsung mendukungnya, melainkan memberikan pesan untuk berhati-hati. Kiai Nawawie berpesan agar jamiyyah yang akan berdiri itu supaya berhati-hati dalam masalah uang. “Saya setuju, asalkan tidak pakai uang. Kalau butuh uang, para anggotanya harus urunan.” Pesan Kiai Nawawi.
    Proses dari sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat sampai dengan perkembangan terakhir pembentukan jamiyyah rupanya berjalan cukup lama. Tak terasa sudah setahun waktu berlalu sejak Kiai Cholil menyerahkan tongkat kepada Kiai Hasyim. Namun, jamiyyah yang diidam-idamkan tak kunjung lahir juga. Tongkat “Musa” yang diberikan Kiai Cholil, maskih tetap dipegang erat-erat oleh Kiai Hasyim. Tongkat itu tak kunjung dilemparkannya sehingga berwujud “sesuatu” yang nantinya bakal berguna bagi ummat Islam.
    Sampai pada suatu hari, As’ad muncul lagi di kediaman Kiai Hasyim dengan membawa titipan khusus dari Kiai Cholil Bangkalan. “Kiai, saya diutus oleh Kiai Cholil untuk menyerahkan tasbih ini,” kata As’ad sambil menyerahkan tasbih. “Kiai juga diminta untuk mengamalkan bacaan Ya Jabbar Ya Qahhar setiap waktu,” tambah As’ad. Entahlah, apa maksud di balik pemberian tasbih dan khasiat dari bacaan dua Asma Allah itu. Mungkin saja, tasbih yang diberikan oleh Kiai Cholil itu merupakan isyarat agar Kiai Hasyim lebih memantapkan hatinya untuk melaksanakan niatnya mendirikan jamiyyah. Sedangkan bacaan Asma Allah, bisa jadi sebagai doa agar niat mendirikan jamiyyah tidak terhalang oleh upaya orang-orang dzalim yang hendak menggagalkannya.
    Ya Qahhar dan Ya Jabbar adalah dua Asma Allah yang memiliki arti hampir sama. Qahhar berarti Maha Memaksa (kehendaknya pasti terjadi, tidak bisa dihalangi oleh siapapun) dan Jabbar kurang lebih memiliki arti yang sama, tetapi adapula yang mengartikan Jabbar dengan Maha Perkasa (tidak bisa dihalangi/dikalahkan oleh siapapun). Dikalangan pesantren, dua Asma Allah ini biasanya dijadikan amalan untuk menjatuhkan wibawa, keberanian, dan kekuatan musuh yang bertindak sewenang-wenang. Setelah menerima tasbih dan amalan itu, tekad Kiai Hasyim untuk mendirikan jamiyyah semakin mantap. Meski demikian, sampai Kiai Cholil meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1925 M),jamiyyah yang diidamkan masih belum berdiri. Barulah setahun kemudian, pada 16 Rajab 1344 H, “jabang bayi” yang ditunggu-tunggu itu lahir dan diberi nama Nahdlatul Ulama (NU).
    Setelah para ulama sepakat mendirikan jamiyyah yang diberi nama NU, Kiai Hasyim meminta Kiai Ridhwan Nashir untuk membuat lambangnya. Melalui proses istikharah, Kiai Ridhwan mendapat isyarat gambar bumi dan bintang sembilan. Setelah dibuat lambangnya, Kiai Ridhwan menghadap Kiai Hasyim seraya menyerahkan lambang NU yang telah dibuatnya. “Gambar ini sudah bagus. Namun saya minta kamu sowan ke Kiai Nawawi di Sidogiri untuk meminta petunjuk lebih lanjut,” pesan Kiai Hasyim. Dengan membawa sketsa gambar lambang NU, Kiai Ridhwan menemui Kiai Nawawi di Sidogiri. “Saya oleh Kiai Hasyim diminta membuat gambar lambang NU. Setelah saya buat gambarnya, Kiai Hasyim meminta saya untuk sowan ke Kiai supaya mendapat petunjuk lebih lanjut,” papar Kiai Ridhwan seraya menyerahkan gambarnya.
    Setelah memandang gambar lambang NU secara seksama, Kiai Nawawie memberikan saran konstruktif: “Saya setuju dengan gambar bumi dan sembilan bintang. Namun masih perlu ditambah tali untuk mengikatnya.” Selain itu, Kiai Nawawie jug a meminta supaya tali yang mengikat gambar bumi ikatannya dibuat longgar. “selagi tali yang mengikat bumi itu masih kuat, sampai kiamat pun NU tidak akan sirna,” papar Kiai Nawawie.

Bapak Spiritual

    Selain memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendirian NU yaitu sebgai penentu berdirinya, sebenarnya masih ada satu peran lagi, peran penting lain yang telah dimainkan oleh Kiai Cholil Bangkalan. Yaitu peran sebagai bapak spiritual bagi warga NU. Dalam tinjauan Mujammil Qomar, Kiai Cholil layak disebut sebagai bapak spiritual NU karena ulama asal Bangkalan ini sangat besar sekali andilnya dalam menumbuhkan tradisi tarekat, konsep kewalian dan haul (peringatan tahunan hari kematian wali atau ulama).
    Dalam ketiga masalah itu, kalangan NU berkiblat kepada Kiai Cholil Bangkalan karena ia dianggap berhasil dalam menggabungkan kecenderungan fikih dan tarekat dlam dirinya dalam sebuah keseimbangan yang tidak meremehkan kedudukan fikih. Penggabungan dua aspek fikih dan tarekat itu pula yang secara cemerlang berhasil ia padukan dalam mendidik santri-santrinya. Selain membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu lahir (eksoterik) yang sangat ketat –santrinya tak boleh boyong sebelum hafal 1000 bait nadzam Alfiah Ibn Malik, ia juga menggembleng para santrinya dengan ilmu-ilmu batin (esoterik).

KHA. Mustofa Bisri, Kiai, Penyair dan Pelukis


            MESKI Kiai Haji Achmad Mustofa Bisri dikenal sangat mobil. Kesana-kemari tak kenal lelah, baik untuk ceramah, diskusi, rapat NU, silaturahmi atau baca puisi. Tapi di bulan Ramadhan, jangan harap bisa ‘mengeluarkan’ Gus Mus —panggilan akrabnya— dari Pondok Pesantrennya di Rembang.

Kenapa ?

Sebab tradisinya adalah : selama bulan Puasa, Gus Mus pilih kumpul dengan keluarga dan para santrinya.

Dia juga membiasakan membaca takbir dan shalawat 170 kali sehabis Maghrib dan Isya.

“Ini memang sudah rutin” katanya. “Bila Ramadhan, saya khususkan untuk tidak keluar. Semua undangan ditolak !”

* * *

SANGAT boleh jadi, masa-masa bulan suci itu, juga digunakan Gus Mus untuk melakukan dua ‘hobi’ lainnya : menulis puisi dan melukis.

Untuk kegemarannya menulis, memang ada yang mengatakan sebagai nyleneh. Padahal, menurutnya, “bersastra itu sudah menjadi tradisi para ulama sejak dulu !”

“Sahabat-sahabat Nabi itu semua penyair, dan Nabi Muhammad SAW pun gemar mendengarkan mereka bersyair. Pernah Rasulullah kagum pada syair ciptaan Zuhair, sehingga beliau melepas pakaian dan menyerahkan kepadanya sebagai hadiah !”

* * *

JADI, kiai berpuisi itu tidak nyleneh ?

“Sebenarnya bukan saya yang nyleneh, tapi mereka !”

Mereka siapa ?

Yang mengatakan dirinya nyleneh !

Sebab, menurutnya, “sastra itu diajarkan di pesantren. Dan kiai-kiai itu, paling tidak tiap malam Jumat, membaca puisi. Burdah dan Barzanji itu kan puisi dan karya sastra yang agung ?!”

“Al Qur’an sendiri merupakan mahakarya sastra yang paling agung !”

* * *

WALHASIL, meski KHA Mustofa Bisri adalah Rais Syuriah PBNU. Meski dia anggota Dewan Penasihat DPP PKB. Meski dia Pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Thalibien di Rembang. Tapi kegiatan menulis puisi memang sudah menjadi darah-dagingnya

“Bersastra itu kan kegiatan manusia paling tinggi, melibatkan rasio dan perasaan !” katanya.

Nyatanya pula, Prof Dr Umar Kayam memahami sekali hal itu. “Dalam perjalanannya sebagai kiai, saya kira, ia (Gus Mus) menyerahkan diri secara total sembari berjalan sambil tafakur. Sedang dalam perjalanannya sebagai penyair, ia berjalan, mata dan hatinya menatap alam semesta dan puak manusia dengan ngungun, penuh pertanyaan dan ketakjuban” katanya.

Hasilnya, antaralain kumpulan puisi bertajuk Tadarus. “Inilah perjalanan berpuisi yang unik !” lanjut Begawan Sastra Indonesia itu.

* * *

SELAIN menulis puisi, Mustofa Bisri juga punya kegemaran melukis. Karyanya sudah puluhan atau mungkin ratusan. Tapi kurang jelas, apakah karyanya itu juga dikoleksi para pandemen lukisan — dengan membeli seperti mereka membeli karya lulusan ISI, misalnya.

“Kekuatan ekspresi Mustofa Bisri terdapat pada garis grafis” kata pula Jim Supangkat, kurator kenamaan itu. “Kesannya ritmik menuju dzikir, beda dengan kaligrafi !”

* * *

ADA KEJADIAN menarik ketika diselenggarakan Muktamar I PKB di Surabaya. KHA Mustofa Bisri termasuk yang diunggulkan jadi Ketua Umum. Pendukungnya juga banyak. Bahkan konon Gus Dur pun men-support.

Tapi, ternyata, Mustofa Bisri sendiri menolak. Atau mengundurkan diri !

Gus Mus justru ... mengadakan pameran lukisan bersama dua temannya, yang mereka beri judul Tiga Pencari Teduh.

Ternyata, dunia politik memang tidak cocok bagi Gus Mus. “Saya mendengar politik saja sudah gerah” katanya. “Apalagi masuk ke dalamnya !”

Itulah salah satu motivasi dia menggelar pameran lukisan. Mencari keteduhan di tangan gemuruhnya politik !
Satu Kamar dengan Gus Dur di Al Azhar, Kairo, Mesir
BEGITU bapaknya, begitu pula ayahnya. Begitu kakeknya, begitu pula cucunya. Inilah yang terjadi pada Achmad Mustofa Bisri, atau Gus Mus.

Kakeknya, H Zaenal Musthofa, dikenal sebagai penulis cukup produktif. Ayahnya, KH Bisri Musthofa, lebih produktif lagi. Juga lebih beragam kegiatannya. Baik di lingkungan politik, pemerintahan, maupun di bidang kebudayaan.

Bisri Musthofa juga dikenal sebagai orator ulung!

Dua putranya kemudian mengikuti jejaknya. KH Cholis Bisri ‘mewarisi’ bakat ayahnya dalam politik, dan kini menjadi Wakil Ketua MPR. Sementara adiknya, Achmad Mustofa Bisri, ‘mewarisi’ kepiawaiannya dalam menulis dan bersastra.

Tapi keduanya tetap ‘jago’ dalam soal agama, seperti kakeknya maupun ayahnya. Mereka juga memimpin pondok pesantren.

***

ACHMAD MUSTOFA BISRI dilahirkan di Rembang pada 10 Agustus 1944.

Selain mendapat gemblengan dari keluarga sendiri yang memang keluarga muslim yang sangat taat. Gus Mus memperoleh gemblengan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang sohor itu. Kenangannya pada pesantren ini, antara lain terekam dalam puisinya berjudul Lirboyo, Kaifal Haal?

“Lirboyo, masihkah penghuni-penghunimu percaya pada percikan/ sawab-sawab mbah Manaf, mbah Marzuqi, dan mbah Mahrus rachimakumullah? / ataukah seperti dimana-mana itu tidak mempunyai arti apa-apa / kecuali bagi dikenang sesekali dalam upacara haul yang gegap gempita”

***

SELAIN memperdalam ilmu di Lirboyo, Gus Mus juga suntuk di Pondok Pesantren Krapyak, Yogya. Puncaknya belajar di Universitas Al Azhar, Kairo.

Di Al Azhar itulah, untuk pertama kali Gus Mus bertemu dan berkenalan dengan Gus Dur, yang kemudian menjadi Presiden keempat Republik Indonesia.

Seperti pengakuannya sendiri, mereka kemudian tinggal di satu kamar. Gus Dur banyak membantu Gus Mus selama di perguruan tinggi tersebut. Bahkan sampai memperoleh beasiswa.

Uniknya, atau ironisnya, Gus Dur sendiri kemudian tidak kerasan di Al Azhar. Dia DO. Lalu meneruskan studinya di Irak.

***

PULANG ke tanah air awal 1970-an, Gus Mus langsung... dinikahkan dengan Siti Fatwa. Gadis teman Gus Mus sendiri di masa kecil.

Jadi, agaknya, selama Gus Mus studi di Al Azhar, kedua orangtua mereka mematangkan rembuk untuk menjodohkan putera-puteri mereka!

“Banyak kenangan di antara kami” kata Gus Mus pula. “Semasa kecil saya kan sering menggodanya!”

Pasangan ini kemudian dianugerahi tujuh putra-putri. Sikap Gus Mus yang liberal didasari kasihsayang, agaknya sangat mengesankan putra-putrinya. Buktinya, Kautsar Uzmut, putri keduanya, memujanya. “Dia itu tipe Abah yang top!” katanya. “Saya sendiri memfigurkan pria seperti Abah yang nanti menjadi suami atau pendamping saya. Tapi terus terang, sangat sulit!”

***

MERASA tidak cocok dengan dunia politik, Gus Mus yang menguasai bahasa Arab, Inggeris dan Prancis memang kemudian lebih banyak berkiprah sebagai ‘kutu buku’ dan ‘penulis buku’. Tentu, di samping jabatan ‘resmi’ sebagai Rais Syuriah PB NU, Anggota Dewan Penasihat DPP PKB, dan tentusaja Pimpinan Pondok Pesantren di Rembang.

Meski Gus Mus pernah jadi Anggota MPR mewakili PPP, tapi ‘kiprah politiknya’ samasekali tidak menonjol. Sebab yang mencuat justru karya sastranya.

Di antara karyanya adalah: Ensiklopedi Ijmak, Proses Kebahagiaan, Pokok Pokok Agama, Kimaya Sa’adah, Nyamuk yang Perkasa dan Awas, Manusia. Serta kumpulan puisi OHOI, Tadarus, Pahlawan dan Tikus, Rubayat Angin dan Rumput, dan lainnya.

Selamat bertadarus puisi, Pak Kiai-penyair! (Minggu Pagi Online)

source: http://www.gusmus.net/page.php?mod=statis&id=1

Kesufian Syech Abdul Qadir Al Jaelani

Oleh: Ach. Suyitno, S.Ag.
A.    Riwayat Hidup.
Sosok Ulama agung sufi besar yang alim dan zahid (qutubul aqtab) lahir di Gilan Iran, pada tanggal (01 Ramadlon 471 H - w.11 Robiul stani 561 H.) dalam usia yang ke 91 tahun., termasuk lingkungan keluarga sufi. Ayahnya bermana Abu Sholeh ibn Abdullah yang sambung dengan Hasan ibn Ali Ibn Abi Thalib (Kemenakan nabi Muhammad SAW. dan diambil menantu, di nikahkan dengan fatimah az-zahra ibn Muhammad Saw.) dan Ibunya bernama Fatimah binti Sayyid Abdullah As-Sumu’I al Husaini. Dari pernikahan ini beliau mempunyai keturunan (anak) yang bernama Abdul Wahab (1157 – 1186 M), Abdus Salam (w. 1213 M) dan Abdul Razzaq (1134 – 1206 M) seorang yang sangat zuhud dan shaleh. (Prof. Dr. Abu Bakar Atjeh, 1993, hal; 312).

Sejak dalam kandungan kekeramatan dengan tanda-tanda keistimewaan telah dirasakan ibunya, sebagaimana yang di ceritakan Imam Sarbuni dalam kitabnya thabaqot bahwa Abdul Qadir Jaelani masa kecilnya pada bulan Sya’ban dan ramadlon tidak mau menyusu ibunya pada siang hari, pada saat ibunya mengaji merasa dikelilingi malaikat yang menjaga anaknya. Di kota Jailan (Gilan-Iran) pada umur 10 -18 tahun,  beliau diperintahkan untuk mengaji dan menghafal beliau sangat cerdas. Beliau gemar belajar dan beramal tidak berkeputusan, ia jujur dan sangat mencintai Ayah dan ibunya.
Pada umur  18 Th ke atas beliau memohon dan direstuinya ibunya untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kerohaniannya di Baghdad (pusat ilmu pengetahuan ), Beliau berguru pada guru besar Abu Zakariyah Tabrezi  (Rektor Jami’ah Nidzamiyah) selama 8 tahun dengan banyak melakukan tarekat, menjalani cobaan lapar tetapi ia tidak mau meminta-minta, setelah lulus ia mendapat latihan spiritual kehidupan rohaninyang ketat dengan melewatkan hidup dengan bermeditasi mencari hakikat kebenaran dan taqarrub kepada Allah. (KH. Jamil Ahmad, 1984).
Disamping itu juga berguru pada Syaikh Abu Said Mahzumi. Syaikh  Hammadu ad-Dibasi, Lautan “Nubuwah” nabi Muhammad dan lautan “Futuwah” Ali ibn Abi Thalib. Dalam perjalanan yang jauh beliau diberi bekal 40 dinar yang di jahit di balik bajunya dengan satu pesan jangan pernah berkata bohong pada siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun juga, lalu beliau bergabung dengan kafilah berangkat menuju Baghdad. Dalam manaqib Syaikh Abdul Qadir Jaelani di ceritakan;
“Setelah memasuki Baghdad kafilah dirampok, aniaya tetapi tidak pada Abdul Qadir jaelani yang disangkanya tidak punya apa-apa, namun ada seorang perampok yang mendatanginya dan menanyakan “Apa yang kau punyai? Jawab beliau saya punya 40 dinar, lalu pimpinan perampok tersebut bertemu dan meminta untuk membedah jahitan bajunya ternyata benar keluarlah uang tersebut. Kenapa engkau menunjukkan uangmu? Jawab beliau, Aku telah berjanji pada ibu untuk berkata jujur pada siapa dan dalam keadaan bagaimanapun. Perampok menangis dan sadar berjabat tangan, taubat tidak berlaku hina dan jahat, kemudian semua barang rampasan dikembalikan. Kafilah dengan selamat tiba di Baghdad.”
Abdul Qadir Jaelani menetap di Baghdad, memanfaatkan hidupnya untuk perjuangan Islam dan kemanusiaan, beliau memiliki lidah yang fasih, lancar dalam orator, ceramahnya banyak yang mendatanginya bahkan dalam sehari + 70-80 ribu orang yang hadir juga hadir Khalifah Abasiyah dan pemuka tingginya yang banyak menganut faham mu’tazilah.
Pada masa khalifah Abasiyah (yang menganut faham rasionalisme Mu’tazilah) saat berkuasa penuh zaman Ma’mun dan Mu’tazim banyak melakukan kehidupan yang mewah dan foya-foya. Akhibat pengaruh faham yang ada, para ulama sufi banyak tidak mendapat kesempatan untuk melakukan aktifitas kesufiannya karena kegiatan sufi dirasa banyak menghambat perkembangan negara dan terjadi pertentangan dengan ulama syariat. Pada saat kelabu inilah Sayikh Abdul Qadir Jaelani hadir dengan ajaran thariqot yang merupakan keseimbangan antara syariat dan tasawuf dengan meluruskan orang-orang muslim yang menyimpang dalam ‘bentuk” maupun” semangat spiritual Islam”. (KH. Jamil Ahmad, 1984).
B.     Thariqoh-nya.
Nama thariqoh yang didirikan Syaikh Abdul Qadir Jaelani (al-Jilli) adalah thariqoh Qadiriyah. Beliau mula pertama ahli fiqh dalam madzhab Imam Hambali, kemudian meningkat pada tataran dunia spiritual sufistik. Ajarannya mengambil jalan tengah antara spritualisme Mansur al-Hallaj dan rasionalisme Mu’tazilah yaitu sinergisitas yang harmonis antara syariat dan tasauf. Thariqoh Qadiriyah dalam kitab Encyclopaedia of Islam (H.A.R Gibb); mempunyai tempat untuk melakukan suluk dan latihan-latihan amalan sufi dan pula diceritakan Suhrawardi  dalam kitab “Awarif al-Ma’arif” bahwa tiap murid yang menamatkan ajarannya sudah beroleh ijazah khirqoh, berjanji untuk meneruskan dan menyiarkan ajarannya. Bagi Syaikh Abdul Qadir Jaelani yang terpenting adalah pembentukan jiwa dan budi pekerti luhur sufi yakni keseimbangan antara syariat dan tasawuf dalam ajarannya yang dilandasi tauhid yang kuat.

C.    Syiar Thariqoh
Dalam masa hidup Syaikh Abdul Qadir jaelani ajarannya sudah banyak yang mensyiarkan dan menyempurnakan ajarannya. Seperti; Ali Bin al_haddad yang terkenal di Yaman, Muhammad Batho’ bertempat tinggal di Balbeek yang mengembangkannya juga di Syiria, Taqiyuddin Muhammad al-Yunani (terkenal penyair tariqat Qadiriyah) di Balbeek, sedang Muhammad bin Abdus Shomad di Mesir yang terkenal keramat dalam menuntun manusia menempuh jalan menuju Allah Swt. Begitu pula anak-anak beliau juga menyiarkan ajarannya di Maroko, Mesir, tanah Arab, Turkestan dan India serta ke Fess Spanyol. Begitu pula yang dilakukan oleh Ismail Rumi di Asia kecil dan Istambul, mendirikan tempat khalwat dan 40 takiyah yaitu tempat mengumpulkan dan memberi makan fakir miskin. Selain itu juga ada Ribbath Qadiriyah di atas bukit Qubis Mekkah dan di puncak Jabal Qubis tersebut terdapat masjid Syaikh Abdul Qadir jaelani. sebagai pusat thariqat untuk berkhalwat yang didatangi manusia seluruh pelosok dunia. Penyebaran thariqat Qadiriyah juga terjadi diAfrika Tengah dan selatan sangat cepat misalnya di Guines, Kounta dan Tembaktu.
D.    Karyanya.
Thariqat Qadiriyah mempunyai zikir-zikir, Wirid-wirid dan hizib-hizib tertentu. Wirid-wirid yang penuh kecintaan terhadap Allah Swt ini terdapat dalam karya Syaikh Abdul Qadir Jaelani dalam kitab “al-Fuyadat al-Rabbaniyah”, juga dalam kitab “Futuh al-Ghaib” yang banyak mengupas tentang aliran mistik, kitab “Ghinyat al- talibin” yang secara komprehensif membahas prinsip syariat dan tasauf .
Manaqib Syaikh Abdul Qadir Jaelani, menurut pengarangnya (tidak mau disebutkan namanya karena takut ria / takabur) mengarang disamping karena ucapan Syaih Adawi al-Hamazawi bahwa menyebut dan mengingat Syaikh Abdul Qadir Jaelani menyebabkan turun rahmat Tuhan kepadanya, juga karena keshalehannya sebagai ulama sufi pemurni Islam. Sehingga khususnya di Indonesia terjadi kegemaran membaca manaqib dan umumnya di negera-negera Islam.
Isi manaqib sebagian besar bercerita tentang riwayat hidup Syaikh Abdul Qadir Jaelani, termasuk budi pekerti yang luhur, keshalehannya, kezuhudannya dan kekeramatan atau keanehan-keanehan, keistimewaan yang terjadi pada beliau. Misalnya mengenai keselamatanharta bAbdul Musaffar 700 dinar melalui Abdul Qodir Jaelani dapat diselamatkan dari perampokan, Beliau kedatangan cahaya di dadanya yang kilau kemilau ternyata setan ingin mengelabuhi dengan mengaku Aku Tuhanmu, jawaban beliau “kamu setan” beliau usir dan setan mengakui kelemahannya sambil berkata; “sudah 70 orang ahli tarikat kusesatkan, tetapi engkau tidak dapat kuperdaya”,  dan keistemewaan lain-lainnya. SehinggaIzzuddin bin Abdus Salam mengakui tidak ada walipun yang dapat mengatasi kedudukan Syaikh Abdul Qadir Jaelani.
Bahkan Syaikh Ahmad al-Kamsya khanuwi dalam kitabnya “Jami’ul Usul fil Aulia” (Mesir, 1331 H.), mengatakan bahwa ahli-ahli hakekat menetapkan makam Abdul Qadir Jaelani lebih tinggi  dari pada Sadzili. Namun dalam hal ajaran pokok dasar tarekatnya sama banyaknya dengan Sadzili. Ada lima buah pokok tarekat Syadzili;  Taqwa kepada Allah lahir bathin, Mrngikuti Sunnah nabi Muhammad baik dalam perkatan dan perbuatan, menjauhan diri dari mahluk didepan dan dibelakang, rela menahan pemberiannya yang sedikit atau banyak, kembali kepada Allah dalam waktu susah  dan senang. (Prof. Dr. Abu Bakar Atjeh, 1993, hal: 309-318).

Daftar Pustaka:
1.                           KH. Jamil Ahmad, “Hundred Greet Moeslims”, Cet. III, Ferozsongs, Ltd. Lahore, Pakistan. Th. 1984
2.                           Prof. Dr. H. Abu bakar Aceh, “Pengantar Ilmu tarekat, kajian Historis tentang Mistik”, Cet. IX, Pt. Ramadhani, Solo, 1993,

Labels

Pengikut


counter
Powered By Blogger